Cerita Pesugihan Misteri di Kota Cirebon
Di sudut Kota Cirebon, tak jauh dari jalan kecil yang mengarah ke daerah pesisir, ada sebuah warung makan sederhana milik seorang pria bernama Rasman. Bertahun-tahun Rasman berjualan nasi lengko, empal gentong, dan kopi hitam, tapi warungnya hampir selalu sepi.
Setiap malam, ia hanya duduk menatap meja-meja kosong. Lampu warung yang redup membuat tempat itu terlihat semakin muram. Sementara warung lain ramai pembeli, warung Rasman seperti tidak terlihat oleh orang yang lewat.
Sampai suatu malam, datang seorang lelaki tua memakai baju hitam. Wajahnya pucat, suaranya pelan, dan matanya tidak pernah benar-benar menatap Rasman.
“Kalau ingin warungmu ramai, datanglah ke tempat yang sudah lama memanggilmu,” kata lelaki itu.
Rasman bingung. “Tempat apa, Pak?”
Lelaki itu hanya tersenyum tipis.
“Di Cirebon, ada tempat yang bisa memberi rezeki. Tapi setiap rezeki yang datang… selalu ada yang ikut pulang.”
Setelah berkata begitu, lelaki tua itu pergi. Anehnya, saat Rasman keluar mengejar, jalanan kosong. Tidak ada suara langkah. Tidak ada bayangan.
Malam berikutnya, rasa putus asa membuat Rasman mengikuti petunjuk samar lelaki itu. Ia berjalan ke sebuah area makam tua yang dikenal warga sebagai tempat angker. Angin laut terasa dingin menusuk kulit. Bau kemenyan samar-samar tercium, padahal tidak ada siapa pun di sana.
Di bawah pohon besar, Rasman menemukan sebuah kain merah kusam terikat pada akar. Di atasnya ada mangkuk kecil berisi bunga layu dan uang logam hitam.
Tiba-tiba terdengar bisikan dari belakangnya.
“Ambil satu… tapi jangan pernah lupa memberi kembali.”
Rasman menoleh cepat. Tidak ada orang.
Karena takut sekaligus tergoda, ia mengambil satu uang logam itu dan membawanya pulang. Uang tersebut ia simpan di bawah laci kasir warung.
Keesokan harinya, keanehan mulai terjadi.
Warung Rasman yang biasanya sepi mendadak penuh pembeli. Orang-orang datang seperti tertarik oleh sesuatu. Ada yang memesan makanan berkali-kali, ada yang bilang masakannya terasa jauh lebih enak dari biasanya.
Dalam seminggu, Rasman bisa membeli etalase baru. Dalam sebulan, ia memperluas warungnya. Dalam tiga bulan, namanya mulai dikenal banyak orang.
Namun setiap malam Jumat, sesuatu selalu terjadi.
Tepat pukul dua belas malam, terdengar suara ketukan dari pintu belakang warung.
Tok… tok… tok…
Awalnya Rasman mengira itu kucing atau orang iseng. Tapi saat pintu dibuka, tidak pernah ada siapa-siapa. Hanya ada piring kosong di lantai, seolah seseorang baru saja selesai makan.
Semakin lama, gangguan itu semakin jelas.
Dapur sering berantakan sendiri. Kompor menyala tanpa disentuh. Bau kemenyan muncul dari bawah laci kasir. Dan yang paling mengerikan, beberapa pelanggan mengaku melihat perempuan berambut panjang berdiri di dekat dapur, menatap makanan yang sedang dimasak.
Rasman mulai ketakutan. Ia ingin membuang uang logam itu, tapi setiap kali dilempar jauh, benda itu selalu kembali ke dalam laci kasir.
Suatu malam, lelaki tua berbaju hitam muncul lagi di depan warung.
“Kau sudah menerima,” katanya pelan. “Sekarang waktunya memberi.”
“Apa yang harus saya berikan?” tanya Rasman gemetar.
Lelaki tua itu tersenyum.
“Bukan uang. Bukan makanan. Tapi sesuatu yang paling kau sayangi.”
Wajah Rasman pucat. Malam itu juga, anak semata wayangnya jatuh sakit. Badannya dingin, matanya kosong, dan ia terus mengigau menyebut-nyebut seseorang yang berdiri di dapur warung.
Rasman sadar, kekayaan yang ia dapat bukan rezeki biasa. Warungnya ramai bukan karena makanan, tapi karena ada “penarik” yang ikut tinggal di sana.
Dengan panik, Rasman mendatangi seorang tokoh tua di kampungnya. Ia menceritakan semuanya. Tokoh itu hanya menghela napas panjang.
“Kesalahanmu bukan karena ingin kaya,” katanya. “Kesalahanmu karena ingin cepat tanpa peduli jalan yang kau pilih.”
Malam itu, Rasman kembali ke makam tua. Ia membawa uang logam hitam, bunga, dan kain merah yang dulu ia temukan. Dengan tubuh gemetar, ia mengembalikan semuanya ke bawah pohon besar.
Angin mendadak berhenti. Suasana menjadi sangat sunyi.
Lalu terdengar suara perempuan menangis dari arah makam.
Rasman tidak berani menoleh. Ia terus berdoa sambil meminta ampun. Ketika suara tangisan itu berubah menjadi tawa pelan, ia langsung berlari pulang tanpa melihat ke belakang.
Sejak malam itu, warung Rasman kembali sepi. Tidak ada lagi pelanggan yang datang berbondong-bondong. Tidak ada lagi uang besar. Tapi anaknya perlahan sembuh.
Hanya saja, warga sekitar masih sering bercerita bahwa setiap malam Jumat, di bekas warung Rasman yang kini sudah tutup, masih terdengar suara piring diketuk dari dalam dapur.
Tok… tok… tok…
Seolah ada pelanggan tak terlihat yang masih menunggu makanannya disajikan.
Penutup
Cerita ini menjadi pengingat bahwa jalan pintas menuju kekayaan sering kali terlihat manis di awal, tapi bisa membawa harga yang jauh lebih mahal di akhir. Rezeki yang datang secara tidak wajar biasanya tidak pernah datang sendirian. Ada bayangan, ada perjanjian, dan ada tagihan yang suatu saat pasti diminta.

Komentar
Posting Komentar