Langsung ke konten utama

Bos Proyek Cirebon Kaya Raya yang Kulitnya Berubah Seperti Sisik Ikan Pesugihan

Bos Proyek Cirebon Kaya Raya yang Kulitnya Berubah Seperti Sisik Ikan Pesugihan 




Pada tahun 2006, hidupku masih berantakan.

Aku tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, bekerja apa saja asal halal. Kadang menjadi sopir angkutan barang, kadang mengantar orang ke luar kota, kadang membantu bongkar muat di pasar. Tidak ada pekerjaan tetap, tidak ada gaji bulanan, tidak ada jaminan besok bisa makan enak.

Tapi aku selalu percaya satu hal: selama masih mau bergerak, rezeki pasti ada.

Setiap sore, aku biasa mangkal di sebuah warung kopi dekat terminal lama. Warung itu sederhana. Atapnya seng, dindingnya separuh papan, dan kalau hujan deras, air sering merembes dari sela-sela atap. Tapi bagi orang-orang kecil seperti kami, tempat itu sudah seperti kantor kedua.

Di sanalah sopir, tukang ojek, kuli bangunan, calo tiket, sampai pedagang asongan berkumpul. Sambil minum kopi hitam, kami membicarakan apa saja. Mulai dari harga beras, proyek jalan yang belum selesai, sampai gosip orang kaya yang mendadak jatuh miskin.

Salah satu nama yang sering muncul waktu itu adalah Pak Darma.

Dulu, semua orang mengenal Pak Darma sebagai bos proyek besar. Ia punya banyak truk, beberapa alat berat, rumah dua lantai, dan mobil mewah yang sering lewat di jalan utama kota. Kalau ada pembangunan ruko, gudang, jembatan kecil, atau perumahan, nama Pak Darma hampir selalu ikut disebut.

Orangnya tinggi besar, berkulit sawo matang, berkumis tebal, dan kalau berjalan selalu seperti orang yang merasa semua orang harus menyingkir dari jalannya.

Tapi di balik keberhasilannya, banyak cerita miring tentang dirinya.

Pak Darma dikenal suka perempuan.

Bukan sekadar suka menggoda. Ia sering menikah, lalu menceraikan. Ada yang katanya istri sah, ada yang hanya dibawa ke rumah kontrakan, ada yang diberi janji akan dinikahi tapi akhirnya ditinggalkan begitu saja.

Orang-orang di warung sering berkata, “Uangnya banyak, tapi hatinya kosong.”

Aku tidak terlalu peduli dengan cerita itu. Bagiku, hidup orang kaya bukan urusanku. Aku lebih sibuk memikirkan bagaimana cara membeli beras untuk rumah.

Sampai suatu malam, aku bertemu langsung dengan Pak Darma.

Malam itu udara terasa pengap. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan bau tanah basah di jalanan. Aku sedang duduk di warung kopi, menunggu penumpang yang mungkin membutuhkan jasa antar ke luar kota. Jam sudah hampir sebelas malam. Warung mulai sepi.

Tiba-tiba sebuah mobil tua berhenti di depan warung. Dari dalamnya turun seorang lelaki memakai kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, dan sandal kulit. Wajahnya tampak kusut. Matanya cekung. Tubuhnya lebih kurus daripada cerita orang-orang tentang masa jayanya.

Pemilik warung langsung berbisik kepadaku.

“Itu Pak Darma.”

Aku menoleh. Benar saja. Walaupun penampilannya sudah jauh menurun, aura sombong di wajahnya masih tersisa sedikit.





Pak Darma masuk ke warung, duduk di pojok, lalu memesan teh panas. Tangannya gemetar saat memegang gelas. Aku perhatikan, ia terus menggaruk bagian leher dan pergelangan tangannya, seolah ada sesuatu yang sangat mengganggu di kulitnya.

Beberapa menit kemudian, ia menatap ke arahku.

“Kamu sopir?” tanyanya.

“Iya, Pak.”

“Bisa antar saya malam ini?”

“Ke mana, Pak?”

Ia terdiam sebentar. Matanya melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat.

“Ke daerah pesisir. Sekitar dua jam dari sini.”

Aku ragu. Jalan ke pesisir malam-malam bukan perjalanan ringan. Beberapa ruas jalan rusak, gelap, dan sepi. Tapi ketika ia menyebutkan bayarannya, aku langsung berubah pikiran. Jumlahnya besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah selama beberapa hari.

“Bisa, Pak,” jawabku.

Kami pun berangkat malam itu juga.

Mobil yang kupakai adalah mobil tua peninggalan kakakku. Mesinnya kasar, pintunya bergetar kalau jalan berlubang, dan lampunya tidak terlalu terang. Tapi selama ini mobil itu setia menemaniku mencari makan.

Pak Darma duduk di sebelahku. Selama beberapa kilometer pertama, ia diam saja. Hanya suara mesin mobil dan gesekan ban dengan aspal basah yang terdengar.

Setelah keluar dari pusat kota, jalan mulai sepi. Rumah-rumah berganti menjadi sawah, lalu kebun tebu, lalu deretan pepohonan gelap di kiri kanan jalan.

Tiba-tiba Pak Darma bertanya.

“Kamu percaya orang bisa kaya karena bantuan makhluk halus?”

Aku menoleh sebentar, lalu kembali melihat jalan.

“Saya tidak tahu, Pak. Saya cuma percaya kalau orang kerja keras, biasanya ada hasilnya.”

Ia tertawa pelan. Tapi tawanya bukan tawa senang. Lebih seperti tawa orang yang sedang mengejek dirinya sendiri.

“Dulu saya juga bilang begitu.”

Aku diam.

Pak Darma menarik napas panjang. Tangannya kembali menggaruk leher. Kali ini lebih keras. Aku bisa mendengar suara kuku menggesek kulit.

“Orang miskin itu kadang terlalu takut lapar,” katanya. “Tapi orang kaya lebih sering takut kehilangan.”

Aku belum memahami maksud ucapannya.

Lalu ia mulai bercerita.

Bertahun-tahun sebelumnya, Pak Darma bukan siapa-siapa. Ia hanya mandor kecil di proyek bangunan. Gajinya pas-pasan, hidupnya sulit, dan sering diremehkan oleh kontraktor besar. Ia punya ambisi besar, tapi tidak punya modal.

Sampai suatu hari, ia gagal membayar utang. Rumah hampir disita. Istrinya waktu itu sakit-sakitan. Anak-anaknya masih kecil. Semua jalan terasa buntu.

Di tengah keputusasaan itu, seorang kenalan mengajaknya menemui seorang lelaki tua di daerah pesisir. Orang itu disebut sebagai “orang pintar”. Katanya, banyak pengusaha datang diam-diam ke sana untuk meminta kelancaran proyek, jabatan, dan kekayaan.

Awalnya Pak Darma tidak percaya.

Tapi ketika hidup sudah berada di ujung jurang, manusia sering rela menggenggam apa saja, bahkan duri, asal tidak jatuh.

Ia pun datang.

Rumah lelaki tua itu berada di dekat pantai, jauh dari pemukiman. Di belakang rumah ada tambak tua yang airnya hitam. Di dekatnya berdiri sebuah pohon besar yang dahan-dahannya menjuntai seperti tangan kurus.

Di sana, Pak Darma diminta mandi dengan air kembang, membawa sesajen, dan mengucapkan janji tertentu.

“Janji apa, Pak?” tanyaku pelan.

Pak Darma tidak langsung menjawab.

Ia membuka sedikit ujung lengan kemejanya. Saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat kulit di pergelangan tangannya.

Aku hampir menginjak rem.

Kulit itu tidak seperti kulit manusia biasa.

Warnanya keabu-abuan, mengilap terkena cahaya lampu dashboard. Permukaannya kasar, pecah-pecah, dan membentuk pola kecil seperti sisik ikan. Sebagian tampak kering, sebagian lagi seperti basah. Ia cepat-cepat menurunkan lengan bajunya kembali.

“Janji untuk memberi makan sesuatu yang tidak bisa dilihat mata,” katanya lirih. “Dan janji untuk tidak menyakiti perempuan.”

Aku merinding.

Pak Darma melanjutkan ceritanya.

Setelah pulang dari pesisir, hidupnya berubah cepat. Terlalu cepat.

Proyek yang dulu selalu gagal ia dapatkan, tiba-tiba jatuh ke tangannya. Orang-orang penting mulai mengenalnya. Kontraktor besar yang dulu meremehkannya, satu per satu datang mengajak kerja sama. Uang masuk seperti air hujan di musim deras.

Dalam waktu beberapa tahun, Pak Darma menjadi orang kaya.

Ia membeli rumah besar. Membeli mobil. Membeli tanah. Membuka kantor kontraktor sendiri. Orang-orang yang dulu menertawakannya kini menunduk sopan saat bertemu.

Tapi kekayaan membuatnya lupa.

Awalnya ia masih rajin datang ke pesisir sesuai perjanjian. Setiap bulan tertentu, ia membawa sesajen, uang, dan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ia juga masih menjaga sikap pada istrinya.

Namun setelah kekayaannya semakin besar, Pak Darma mulai merasa dirinya tidak tersentuh.

Ia mulai main perempuan.

Pertama, seorang penyanyi dangdut dari acara proyek. Lalu pegawai toko bangunan. Lalu janda muda di kampung sebelah. Lalu perempuan lain lagi. Setiap kali ditegur, ia marah. Setiap kali istrinya menangis, ia pergi.

“Waktu itu saya merasa punya uang berarti punya kuasa,” katanya. “Saya kira semua orang bisa dibeli. Saya kira hati perempuan juga bisa diganti dengan perhiasan.”

Ia salah.

Ada satu perempuan bernama Sari. Masih muda, cantik, dan berasal dari keluarga sederhana. Pak Darma berjanji akan menikahinya. Ia diberi rumah kontrakan, diberi uang belanja, dan diajak hidup layaknya istri.

Tapi setelah bosan, Pak Darma meninggalkannya.

Sari datang ke kantor berkali-kali. Ia menangis, memohon agar Pak Darma menepati janji. Tapi Pak Darma malah menyuruh satpam mengusirnya. Bahkan, menurut cerita yang ia akui sendiri malam itu, ia pernah berkata kasar di depan banyak orang.

“Perempuan seperti kamu banyak. Jangan merasa paling penting.”

Sejak hari itu, hidup Pak Darma mulai berubah.

Awalnya hanya mimpi buruk.

Setiap malam, ia bermimpi berdiri di pinggir laut. Dari dalam air muncul banyak tangan perempuan, memegang kakinya, menariknya ke dasar. Saat terbangun, kakinya selalu basah, padahal ia tidur di kamar ber-AC.

Lalu muncul bau amis di rumahnya.

Bau itu tidak kuat, tapi mengganggu. Seperti bau ikan busuk yang terselip di sudut ruangan. Pembantu membersihkan rumah berkali-kali, tapi bau itu selalu kembali.

Kemudian kulitnya mulai gatal.

Dimulai dari telapak kaki. Gatal biasa, pikirnya. Ia membeli salep. Tidak sembuh. Pergi ke dokter. Diberi obat alergi. Tidak berubah. Beberapa minggu kemudian, kulit di kakinya mulai mengeras dan mengelupas.

Istrinya ketakutan.

Pak Darma marah dan menuduh istrinya terlalu percaya takhayul. Tapi jauh di dalam hati, ia tahu semua ini bukan penyakit biasa.

Saat ia kembali ke pesisir untuk menemui lelaki tua itu, rumahnya sudah kosong.

Tetangga sekitar berkata, lelaki tua itu meninggal beberapa bulan sebelumnya. Tapi anehnya, tidak ada yang tahu di mana makamnya. Ada yang bilang jenazahnya tidak pernah ditemukan. Ada yang bilang rumah itu terbakar sendiri pada tengah malam, tapi ketika pagi, bangunannya tetap utuh.

Sejak itu, semua semakin buruk.

Kulit Pak Darma menyebar seperti sisik. Dari kaki ke betis. Dari betis ke paha. Dari tangan ke punggung. Ia tidak bisa lagi memakai baju pendek. Kalau terkena matahari, kulitnya terasa seperti disiram air mendidih. Tapi kalau mendengar suara ombak atau mencium bau laut, tubuhnya terasa tenang.

Aneh sekali.

Di saat yang sama, bisnisnya hancur.

Satu proyek besar gagal karena tanah bermasalah. Proyek lain dihentikan karena dananya macet. Beberapa alat berat rusak bersamaan. Truk-truknya kecelakaan. Rekeningnya dibekukan karena sengketa. Anak buahnya kabur membawa uang.

Orang-orang yang dulu selalu datang ke rumahnya kini menghilang.

Teman-teman bisnis tidak mengangkat telepon. Saudara yang dulu sering memuji mulai menjauh. Perempuan-perempuan yang pernah ia nikahi atau pelihara pergi satu per satu. Bahkan anak-anaknya malu menyebut namanya.

Pak Darma yang dulu ditakuti, kini menjadi bahan bisik-bisik.

“Katanya kena kutukan.”

“Katanya tumbalnya belum lunas.”

“Katanya kulitnya jadi seperti ikan.”

Aku masih menyetir dalam diam. Jalan ke pesisir semakin gelap. Tidak ada lampu jalan. Hanya cahaya bulan samar di balik awan.

“Pak,” kataku akhirnya, “malam ini Bapak mau ke mana sebenarnya?”

Ia menatap lurus ke depan.

“Saya mau minta dilepaskan.”

“Ke siapa?”

“Kepada yang dulu memberi.”

Aku menelan ludah.

Sekitar pukul satu malam, kami tiba di jalan kecil dekat tambak. Pak Darma menyuruhku berhenti di depan sebuah rumah tua.

Aku langsung mengenali tempat itu dari ceritanya.

Rumah kayu tua. Halaman penuh rumput liar. Di belakangnya terdengar samar suara ombak, walaupun pantai masih agak jauh. Udara di sana dingin, tapi bukan dingin biasa. Dingin yang membuat tulang terasa kosong.

Pak Darma turun dari mobil sambil membawa tas hitam kecil.

“Saya tunggu di sini, Pak?” tanyaku.

Ia mengangguk.

“Jangan turun. Apa pun yang kamu dengar, tetap di mobil.”

Kalimat itu membuatku semakin tidak nyaman.

Ia berjalan menuju rumah tua. Pintu rumah itu terbuka sendiri sebelum ia mengetuk. Aku melihatnya masuk, lalu pintu tertutup perlahan.

Aku duduk sendiri di dalam mobil. Mesin kumatikan. Lampu kumatikan. Hanya suara jangkrik, angin, dan sesekali suara air bergerak dari arah tambak.

Sepuluh menit pertama tidak terjadi apa-apa.

Lalu aku mendengar suara perempuan menangis.

Jauh. Pelan. Seperti berasal dari dalam rumah, tapi juga seperti dari arah tambak.

Aku berusaha tidak peduli.

Lima menit kemudian, terdengar suara laki-laki berbicara keras. Suaranya tidak jelas. Lalu ada suara benda jatuh. Kemudian hening.

Aku mulai gelisah.

Di kaca depan mobil, embun mulai muncul. Aku mengusapnya dengan tangan. Saat itulah aku melihat bayangan seseorang berdiri di seberang jalan.

Perempuan.

Rambutnya panjang menutupi wajah. Bajunya basah. Ia berdiri diam menghadap mobilku.

Aku tidak berani bergerak.

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya pohon atau kain yang tertiup angin. Tapi bayangan itu perlahan mengangkat tangan, menunjuk ke arah rumah tua.

Lalu hilang.

Tidak lama kemudian, pintu rumah terbuka keras.

Pak Darma keluar dengan langkah sempoyongan. Wajahnya pucat. Keringat membasahi dahinya. Tas hitam yang tadi ia bawa sudah tidak ada.

Ia masuk ke mobil dan berkata cepat, “Jalan. Sekarang.”

Aku tidak bertanya. Aku langsung menyalakan mesin dan memutar mobil.

Selama perjalanan pulang, Pak Darma menggigil hebat. Ia memegangi dadanya, sesekali menahan napas seperti kesakitan. Dari tubuhnya tercium bau amis yang sangat kuat.

Aku membuka kaca sedikit, tapi ia langsung membentak.

“Tutup!”

Aku menurut.

Beberapa menit kemudian, ia mulai bicara sendiri.

“Saya sudah minta ampun… saya sudah kembalikan semuanya…”

Aku melirik.

Wajahnya tampak sangat tua malam itu. Seolah dalam satu jam, usianya bertambah sepuluh tahun.

“Apa yang terjadi di dalam, Pak?” tanyaku pelan.

Ia menggeleng.

“Tidak bisa selesai.”

“Maksudnya?”

Ia menatapku. Matanya merah.

“Perjanjian dengan manusia bisa dibatalkan. Perjanjian dengan yang bukan manusia… tidak semudah itu.”

Aku tidak berani bertanya lagi.

Namun tiba-tiba ia membuka kancing kemejanya bagian atas. Aku melihat lehernya. Sisik itu sudah naik sampai bawah rahang. Kulitnya berkilau aneh terkena cahaya lampu mobil.

“Dulu saya kira yang diminta hanya sesajen,” katanya. “Ternyata yang mereka makan bukan bunga, bukan darah ayam, bukan uang. Yang mereka makan adalah keserakahan saya sendiri.”

Aku diam, tapi jantungku berdebar keras.

Pak Darma lalu bercerita bahwa di dalam rumah tua tadi, ia bertemu sosok yang menyerupai lelaki tua yang dulu membantunya. Tapi wajahnya tidak sama. Kadang terlihat seperti orang tua, kadang seperti perempuan, kadang seperti tubuh hitam tanpa wajah.

Sosok itu berkata bahwa Pak Darma telah melanggar janji.

Bukan sekali. Berkali-kali.

Ia mempermainkan perempuan. Menghina orang lemah. Memakai kekayaan untuk menekan orang lain. Dan yang paling berat, ia tidak pernah benar-benar menyesal ketika menyakiti orang.

Ia hanya takut ketika hukuman datang.

“Katanya,” Pak Darma berbisik, “kalau saya ingin bebas, saya harus meminta maaf kepada semua orang yang pernah saya hancurkan.”

Aku bertanya, “Bapak mau melakukannya?”

Ia tidak menjawab lama sekali.

Lalu ia berkata, “Sebagian dari mereka sudah tidak bisa saya temui.”

Setelah malam itu, aku mengantar Pak Darma pulang ke sebuah rumah tua di pinggir kota. Bukan rumah megah seperti cerita orang-orang. Rumah itu besar, tapi kosong. Pagarnya berkarat. Halamannya penuh daun kering. Beberapa kaca jendelanya retak.

Sebelum turun, Pak Darma memberiku uang lebih banyak dari kesepakatan.

Aku menolak sebagian, tapi ia memaksa.

“Ambil,” katanya. “Tapi ingat satu hal.”

“Apa, Pak?”

“Jangan pernah iri pada kekayaan orang yang kamu tidak tahu asalnya.”

Aku mengangguk pelan.

Ia lalu masuk ke rumahnya. Pintu tertutup. Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Kukira semua selesai malam itu.

Ternyata tidak.

Beberapa hari kemudian, Pak Darma datang lagi ke warung kopi. Kali ini penampilannya semakin buruk. Ia memakai jaket tebal, topi, dan sarung tangan, padahal hari masih sore dan udara panas.

Ia mencariku.

“Antar saya ke rumah seseorang,” katanya.

Aku sebenarnya ingin menolak, tapi wajahnya membuatku kasihan. Ada ketakutan yang begitu dalam di matanya.

Kami pergi ke sebuah kampung di pinggiran kota. Di sana, ia mencari seorang perempuan bernama Sari. Perempuan yang dulu pernah ia tinggalkan.

Setelah bertanya ke beberapa orang, kami menemukan rumah keluarga Sari.

Yang membukakan pintu adalah ibunya.

Begitu melihat Pak Darma, wajah perempuan tua itu langsung berubah keras.

“Mau apa lagi kamu datang ke sini?”

Pak Darma menunduk.

“Saya mau minta maaf.”

Ibu Sari tertawa getir.

“Minta maaf? Setelah anak saya kamu permalukan? Setelah dia sakit berbulan-bulan karena janji palsumu?”

Pak Darma terdiam.

“Di mana Sari sekarang?” tanyanya.

Ibu itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah belakang rumah.

Di sana ada sebuah makam kecil.

Pak Darma berdiri kaku. Wajahnya seperti kehilangan darah.

Sari sudah meninggal setahun sebelumnya.

Katanya, setelah ditinggalkan dan dipermalukan, Sari jatuh sakit. Ia sering melamun, sering menangis, dan menolak makan. Tidak ada yang tahu penyakit pastinya. Ia meninggal dalam keadaan menyedihkan, membawa luka batin yang tidak pernah diselesaikan.

Pak Darma berjalan mendekati makam itu. Lututnya lemas. Ia jatuh terduduk di tanah.

Untuk pertama kalinya, aku melihat lelaki sombong itu menangis seperti anak kecil.

“Maafkan saya, Sar,” ucapnya berkali-kali. “Maafkan saya…”

Angin berembus pelan. Daun-daun kering bergerak di atas makam.

Aku berdiri agak jauh. Tidak enak melihat duka orang lain terlalu dekat.

Namun saat Pak Darma menangis, tiba-tiba tubuhnya kejang. Ia mencengkeram tanah. Dari balik sarung tangannya, keluar cairan bening bercampur darah. Ia mengerang kesakitan.

Aku dan ibu Sari membantunya berdiri.

Tapi ketika sarung tangannya terlepas, kami sama-sama terkejut.

Jari-jari Pak Darma tampak mengeras. Kulitnya bukan hanya bersisik, tapi mulai menebal seperti kulit hewan. Kukunya menghitam.

Ibu Sari mundur ketakutan.

“Pergi,” katanya. “Jangan bawa musibah ke rumah ini.”

Pak Darma tidak melawan. Ia hanya mengangguk lemah.

Sejak hari itu, kondisinya memburuk cepat.

Aku beberapa kali mendengar kabar tentangnya. Katanya ia mulai mendatangi orang-orang yang pernah ia sakiti. Mantan istri. Bekas karyawan yang gajinya tidak dibayar. Rekan bisnis yang pernah ia tipu. Keluarga perempuan yang pernah ia permainkan.

Sebagian menerima permintaan maafnya. Sebagian mengusirnya. Sebagian bahkan tidak sudi melihat wajahnya.

Tapi anehnya, setiap kali ia selesai meminta maaf, kulitnya bukan membaik. Justru semakin parah.

Suatu malam, ia memanggilku lagi.

Kali ini aku datang ke rumahnya. Bukan untuk mengantar, tapi karena seorang tetangga memintaku menengok. Katanya Pak Darma sudah beberapa hari tidak keluar rumah.

Rumah itu gelap ketika aku tiba. Pintu depan tidak terkunci. Aku masuk sambil mengucap salam.

Tidak ada jawaban.

Di dalam rumah, bau amis sangat kuat. Seperti pasar ikan yang dibiarkan berhari-hari. Lantai ruang tamu kotor, penuh bekas goresan. Beberapa foto keluarga tergantung miring di dinding. Ada foto Pak Darma saat masih gagah, berdiri di samping mobil mewah, memakai kemeja rapi dan jam tangan mahal.

Aku berjalan ke kamar belakang.

Di sana aku menemukannya.

Pak Darma terbaring di lantai, bukan di kasur. Tubuhnya ditutup selimut, tapi bagian wajah dan tangannya terlihat. Aku hampir tidak mengenalinya.

Wajahnya cekung. Kulit di pipi dan lehernya sudah berubah kasar. Matanya merah. Bibirnya kering. Napasnya berat.

“Mas…” panggilnya lemah.

Aku mendekat.

“Tolong ambilkan air.”

Aku mengambil segelas air dari dapur. Saat kuberikan, tangannya gemetar hebat. Ia minum sedikit, lalu batuk.

“Saya tidak kuat lagi,” katanya.

“Bapak harus ke rumah sakit.”

Ia menggeleng.

“Dokter tidak bisa menyembuhkan janji.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Pak Darma lalu meminta aku duduk. Ia berkata ingin menceritakan sesuatu, karena mungkin malam itu adalah malam terakhirnya.

“Saya dulu punya semuanya,” katanya. “Rumah, uang, mobil, perempuan, orang-orang yang hormat. Tapi anehnya, semakin banyak yang saya punya, semakin kosong rasanya.”

Ia menatap langit-langit kamar.

“Saya kira kekayaan membuat saya jadi manusia besar. Ternyata kekayaan hanya memperbesar sifat asli saya. Kalau hati seseorang serakah, uang akan membuatnya lebih serakah. Kalau seseorang suka merendahkan orang lain, jabatan akan membuatnya lebih kejam.”

Aku mendengarkan dalam diam.

Di luar rumah, hujan mulai turun.

Pak Darma melanjutkan, “Yang paling saya sesali bukan kulit ini. Bukan sakit ini. Tapi wajah orang-orang yang pernah saya buat menangis. Mereka datang setiap malam. Berdiri di sudut kamar. Kadang hanya diam. Kadang memanggil nama saya.”

Aku merinding.

“Bapak mungkin hanya bermimpi,” kataku, walau aku sendiri tidak yakin.

Ia tersenyum lemah.

“Mimpi tidak meninggalkan pasir basah di lantai, Mas.”

Aku menoleh ke bawah.

Benar saja. Di dekat pintu kamar, ada jejak-jejak basah seperti seseorang baru saja masuk dari pantai. Padahal rumah Pak Darma jauh dari laut.

Malam itu ia memintaku melakukan satu hal jika ia meninggal.

“Jangan biarkan orang mengingat saya sebagai orang hebat,” katanya. “Ceritakan saja bahwa saya orang bodoh yang menjual ketenangan demi kekayaan.”

Aku menunduk.

“Bapak masih bisa berubah,” kataku.

“Sebagian dosa bisa dimaafkan,” jawabnya. “Tapi bekasnya tetap tinggal.”

Setelah itu ia meminta aku pulang. Katanya ia ingin sendiri.

Aku sebenarnya tidak tega meninggalkannya. Tapi ia memaksa.

Saat aku keluar dari rumah, hujan semakin deras. Sebelum masuk mobil, aku menoleh ke jendela kamarnya.

Di balik tirai tipis, aku melihat bayangan Pak Darma duduk di lantai.

Tapi ia tidak sendiri.

Ada beberapa bayangan lain berdiri mengelilinginya.

Aku tidak menunggu lebih lama. Aku langsung pergi.

Keesokan paginya, kabar itu menyebar.

Pak Darma meninggal.

Tetangga menemukannya di kamar belakang, terbaring di lantai dengan posisi meringkuk. Anehnya, lantai kamarnya basah seperti baru disiram air laut. Ada pasir halus di sudut ruangan. Padahal semalaman tidak ada orang yang datang.

Jenazahnya segera ditutup kain. Tidak banyak orang yang berani melihat terlalu lama.

Aku datang saat pemakamannya.

Suasananya sepi. Tidak ada iring-iringan panjang. Tidak ada pejabat. Tidak ada rekan bisnis besar. Hanya beberapa tetangga, satu dua keluarga jauh, dan beberapa orang yang mungkin dulu pernah bekerja dengannya.

Dari kejauhan, aku melihat anak laki-lakinya datang sebentar, berdiri kaku, lalu pergi sebelum pemakaman selesai.

Tidak ada tangisan besar.

Hanya hujan gerimis dan tanah merah yang perlahan menutup jasad seorang lelaki yang dulu pernah merasa bisa membeli dunia.

Setelah pemakaman, seorang tetangga tua menghampiriku.

“Kamu yang sering antar dia, ya?”

Aku mengangguk.

Orang tua itu berkata, “Pak Darma itu sebenarnya bukan orang bodoh. Dia tahu mana benar mana salah. Tapi dia terlalu lama membiarkan dirinya salah.”

Kalimat itu terus kuingat sampai sekarang.

Bertahun-tahun sudah berlalu sejak kematian Pak Darma. Warung kopi tempatku dulu mangkal sudah tidak ada. Terminal lama juga sudah sepi. Kota kecil itu berubah. Banyak bangunan baru berdiri. Jalan-jalan diperlebar. Orang-orang lama banyak yang pergi atau meninggal.

Tapi setiap kali aku melewati daerah pesisir, aku selalu teringat malam itu.

Rumah tua dekat tambak itu kabarnya sudah roboh. Tidak ada yang mau membeli tanahnya. Warga sekitar bilang, kadang pada malam tertentu masih terdengar suara mobil berhenti di sana. Ada juga yang mengaku melihat lelaki berkemeja putih berjalan ke arah laut dengan tubuh membungkuk.

Aku tidak tahu benar atau tidak.

Yang aku tahu, kisah Pak Darma mengajarkanku satu hal.

Tidak semua kekayaan membawa kemuliaan.

Ada harta yang datang sebagai rezeki. Ada harta yang datang sebagai ujian. Dan ada pula harta yang datang sebagai jerat, terlihat manis di awal, tapi perlahan mengikat leher pemiliknya sampai tidak bisa bernapas.

Pak Darma bukan hancur karena miskin.

Ia hancur karena serakah.

Ia bukan dikutuk hanya karena mencari kekayaan.

Ia dikutuk oleh pilihannya sendiri: mempermainkan janji, menyakiti orang lemah, dan mengira bahwa uang bisa membersihkan semua dosa.

Sejak itu, aku tidak pernah iri melihat orang mendadak kaya.

Karena kita tidak pernah tahu apa yang mereka korbankan di belakang pintu tertutup.

Kadang yang terlihat seperti keberuntungan, sebenarnya adalah utang.

Dan tidak semua utang bisa dibayar dengan uang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Mendapatkan Uang Gaib di Tasikmalaya

 Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang menyimpan banyak cerita mistis. Di balik suasana kotanya yang ramai, perbukitan yang hijau, dan kampung-kampung yang masih asri, tersimpan berbagai kisah yang sering diceritakan dari mulut ke mulut. Salah satunya adalah kisah tentang uang gaib. Cerita ini hanyalah fiksi yang terinspirasi dari legenda dan kepercayaan masyarakat. Namun, kisah semacam ini sering membuat orang bertanya-tanya: apakah uang gaib benar-benar ada, atau hanya cerita yang tumbuh dari rasa putus asa manusia saat menghadapi kesulitan hidup? Awal Mula Masalah Namaku Raka. Aku tinggal di sebuah kampung kecil di pinggiran Tasikmalaya. Hidupku awalnya biasa saja. Aku bekerja serabutan, kadang membantu di toko bangunan, kadang ikut proyek kecil sebagai tukang harian. Namun, setelah ayahku sakit, keadaan berubah total. Uang tabungan habis untuk biaya berobat. Hutang mulai menumpuk. Setiap malam aku sulit tidur memikirkan cicilan, kebutuhan rumah, d...

Pengalaman Pesugihan di Sukabumi: Kisah yang Mengubah Hidupku

 Sukabumi dikenal dengan keindahan alamnya yang masih asri. Di balik perbukitan, hutan, dan jalan-jalan sepi yang membelah kampung, tersimpan banyak cerita mistis yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat. Salah satu cerita yang sering dibicarakan adalah tentang pesugihan. Artikel ini adalah cerita fiksi bergaya pengalaman pribadi. Kisah ini dibuat sebagai hiburan dan bahan bacaan bertema misteri, bukan ajakan untuk melakukan pesugihan. Awal Masalah Perkenalkan, nama saya Dedi. Saya warga Sukabumi. Dulu kehidupan saya biasa saja. Saya bekerja serabutan sebagai tukang bangunan. Penghasilan tidak menentu, kadang cukup untuk makan, kadang harus berhutang kepada saudara. Tahun 2019, keadaan hidup saya semakin berat. Anak saya sakit keras, sementara istri tidak bisa bekerja karena harus merawat anak di rumah. Hutang mulai menumpuk. Setiap malam saya sulit tidur karena memikirkan biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Di tengah keadaan itu, saya bertemu dengan seseorang yang...

Pengalaman Pedagang Asongan di Bogor Mendapatkan Harta Gaib Pesugihan

 Aku tidak pernah menyangka hidupku berubah hanya karena satu malam yang seharusnya biasa saja. Namaku Wawan. Sehari-hari aku berdagang asongan di sekitar terminal dan lampu merah di Bogor. Daganganku tidak banyak, hanya air mineral, tisu, rokok eceran, dan beberapa snack kecil. Kalau sedang ramai, aku bisa bawa pulang seratus ribu. Kalau sepi, buat makan saja kadang harus mikir dua kali. Aku bukan orang kaya. Aku juga bukan orang yang banyak keinginan. Yang aku mau cuma satu: hidup tidak terus-terusan dikejar utang. Tapi semua mulai berubah setelah malam Jumat itu. Malam Aneh di Pinggir Jalan Bogor Waktu itu hujan turun deras dari sore. Jalanan Bogor macet seperti biasa. Aku masih memaksa jualan karena di rumah anakku sedang sakit, sementara uang di kantong tinggal dua puluh ribu. Menjelang malam, daganganku masih banyak. Aku duduk berteduh di warung kosong dekat jalan menuju arah kaki Gunung Salak. Suasana sudah sepi. Hanya suara hujan, angin, dan sesekali motor lewat. Di ...